LISNA COLLECTION
adalah Fan Page yang belum lama kubuat.selama ini kalo jualan masih gabung dengan FB yang biasa. Untuk lebih termanage dan terarah kubuatlah FanPage dengan cara klik ke sini Fanpage FB
ikuti petunjuk step by step dan taraaaa... jadi deh Lisna Collection yang hingga tulisan ini kubuat baru dapat like 50 orang. Baiklah.. it's ok.. semoga nanti makin banyak, Amin
Lisna Collection menjual baju-baju dari mulai baju anak-anak hingga dewasa. Salah satunya baju ini,
Yang berminat, yuk berkunjung ke Lisna Collection
Kamis, 14 Februari 2013
Selasa, 22 Januari 2013
Singkong Goreng
Hmmm.. siapa yang ngga tau kudapan yang satu ini? Pada tau koq tapi kalo ditanya suka apa ngga, hayoo.. siapa yang ngacung..
Makan tradisional feodal dari jaman baheula yang tidak lekang digerus zaman. Apalagi sekarang marak dikombinasiin dengan bahan lain agar packaging dan rasa lebih menarik. Meski sudah berganti dengan cemilan-cemilan berbau Barat, tapi ingat yang satu ini membuat aku tergiur untuk membuatnya sendiri. Biar lebih higienis dibanding beli di pinggir jalan.
Singkong Goreng
Bahan :
- 1 kg singkong (Aku beli di pasar dekat rumah, Rp. 3.500/kg)
- Air
- Bumbu yg dihaluskan terdiri dari
- bawang putih 2 siung
- ketumbar 1 sdm
- kunyit sedikit
- minyak goreng
cara membuat :
- kupas singkong, potong2 sesuai selera atau proporsional, bersihkan
- Campur bumbu dengan air panas, lalu masukkan singkongnya
- rebus singkong hingga empuk, biarkan hingga dingin
- goreng dalam minyak panas hingga matang
- angkat dan sajikan
Label:
Masak Yuuk..
Selasa, 04 Desember 2012
Baiti Jannati
Rumah..
Siapa yang nda kepengen memiliki ini. Siapa pula yang maunya hidup kontraktor terus.. mungkin ada dan kenyataan memang ada dengan kondisi anak-anak yang sudah dewasa, laki-laki dan perempuan, tinggal berhimpitan di rumah kontrakan 3 petak. Tak terbayang tumpleknya saat tidur seperti apa karna sudah dewasa semua dan seharusnya anak-anak memiliki kamar sendiri-sendiri.
Rumah, Yap.. jadi salah satu impian kami. Rumah mungil untuk kami sekeluarga yang asri.disamping atau di bagian dalam rumah diberi space untuk ruang berkumpul keluarga dengan view kebun yang sejuk dan gemericik air. Yang pasti, kami ingin punya rumah yang dibarokahi Illahi. Malaikat pun masuk ke rumah kami, Baiti Jannati...
Insya Allah, kami tetap ikhtiar untuk mewujudkan ini disertai do'a.
Hmm.. gimana jadinya kalo punya rumah seperti ini..
Atau yang ini
Unik ya...
Label:
Kisah
Rabu, 28 November 2012
Mengukir Cinta Hingga di Ujung Usia
Sayang…….
Aku ingin akulah yang pertama menemukan
uban di antara helai-helai rambutmu dan menggaruknya ketika engkau
mengeluh kulit kepalamu tiba-tiba menjadi lebih gatal dari biasanya. Dan
ketika helai-helai itu semakin bertambah dengan suka cita aku akan
menyisirinya, tak perlu meminta pewarna rambut. Sayang, rambut kelabumu
kan tampak seksi di mataku.
Tak perlu khawatir…….
Aku siap mencarikan kacamatamu ketika
kamu lupa tempat menaruhnya. Atau akan kubuatkan sebuah kotak segala
ada, tempat engkau dapat menaruh semua barang dan perkakasmu sesukanya.
Ketika malam-malam dingin dan rasa ingin pipis tak tertahan lagi, jangan
ragu untuk membangunkanku. Sayang….. ini tanganku di sampingmu jangan
ragu jadikan tanganku sebagai peganganmu.
Sayang…….
Aku tidak menginginkan yang muluk-muluk. Aku ingin mendampingi masa tuamu, aku ingin tua di sampingmu, bersamamu.
Sehat, sehatlah sayang…….
Agar engkau juga sempat meraba kepalaku yang ditumbuhi uban, agar sempat aku memamerkan gigiku yang mulai tanggal.
Sehat, sehatlah sayang…….
Agar ketika kita tua, kita masih sanggup
menemani anak cucu kita bermain bersama. Atau sekedar mengunjungi mereka
saat hari libur tiba. Kupikir lebih baik kita saja yang mengunjungi
mereka sambil membawakan makanan kesukaan mereka. Mungkin nanti anak
cucu kita akan lebih sibuk dari hari-hari sibuk yang kita jalani
sekarang. Kita akan jadi orang tua yang paling pengertian ya kan,
sayang…..
Sayang…….
Aku ingin tetap mesra bersamamu, hingga
tua. Tetap membisikkan kata cinta, meski pendengaran kita semakin
berkurang. Jangan malu untuk sedikit berteriak di telingaku ya…?! Kau
tahu, aku sangat suka mendengarkan ungkapan sayangmu.
Ku ingin kita…….
Tetap saling memanja, semampu tenaga yang
masih kita miliki. Anak, cucu, ponakan dan keluarga kita pasti akan
menyangi kita berdua, tapi percayalah aku yang paling tau cara
memanjakanmu demikian engkau yang paling tau cara memantik binar di
mataku.
Bila waktu memang menggerus banyak hal…..
Bila usia memang mengikis banyak hal…..
Aku berharap, semoga itu bukan cinta dan kasih sayang kita.
Bila memang tiada yang abadi…..
Bila memang semua akan berakhir…..Bila memang semua akan terhenti…..
Aku berharap, sepanjang waktu yang kita
miliki, temani aku untuk melakukan yang terbaik untuk cinta yang kita
punya. Menjadikan cinta dan hubungan yang kita bina sebagai anugerah
paling indah dan paling berharga.
Apapun boleh berhenti, tapi tidak dengan niatan tulus untuk saling mengasihi.
Apapun boleh usai, tapi tidak dengan upaya gigih untuk saling mejaga, upaya gigih untuk saling membahagiakan.
Sayang…….
Hari ini, menit ini, detik ini, aku
seperti bisa menatap proyektor besar tak bertepi, memutar film tak
berjudul yang kita perankan, ada dua tangan keriput yang saling
menggenggam. Tanganku dan tanganmu.
Tapi ketika adegan berganti, saat film
hampir usai, aku tak sanggup lagi menatapnya, semua menjadi kabur dan
basah oleh Air Mata.
__________________________________________________
*-Ku ingin mencintai mu sepenuh hatiku, tapi tak bisa
*-Ku ingin bersama mu selamanya, tapi takkan mungkin
*-Ku ingin sehidup semati dengan mu, tapi semua itu gombal belaka
*-Karena ku ingin hanya Allah dihati ku
*-Yang Takkan Meninggalkan ku, Takkan Berpisah dan selama-lamanya krn semua itu bukan gombal
*-Kalau pun aku mencintai mu, itu karena Allah
*-Karena Dia-lah yang menggerakkan hati ku untuk menyayangi mu
*-I love you….. because “Uhibbuka fillah”
sumber : (Facebook) halalkan aku ayah
Label:
Hikmah
Sayang, 2 Tahun sudah
Bismillahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillah.. Wa Syukurillah
Tujuh Ratus Tiga puluh Hari telah Allah izinkan aku bersama dengan laki-laki pilihan itu. Melewati hari baru berdua dengannya di sebuah rumah petak yang dalam tempo selama ini tiga kali kami pindah tempat. Rumah mungil yang Alhamdulillah menaungi kami dari panas dan hujan.Rumah petak yang kami sewa sampai dengan dua juta per enam bulan. Ada tawa di sana, senda gurau, bercengkerama Ada tangis di sana, kesalahpahaman, diam-diaman. Ah.. aku lebih suka yang pertama Karna ketika saling diam, sepi rasanya
Ada lucu ketika si Abang belajar masak :D
Kadang gosong.. kadang hambar
Tapi.. enak :D Enak
karna tinggal makannya ;)
Robb.. semoga Engkau melapangkan waktu kami,
kebersamaan kami agar kami makin saling menguatkan,
saling mengingatkan satu sama lain
Saling mengisi, saling melengkapi
Tak ada yang kami harapkan selain ridho-Mu untuk rumah tangga kami
Hiasi perjalanan kami dengan SaMaRa ya Robb..
Dan dilengkapi dengan tawa mungil dambaan kami
Kami berserah diri Ya Allah
Kami yakin, rahasia indah tengah Engkau persiapkan untuk kami
Label:
Love Jouney
Rabu, 17 Oktober 2012
Jangan bengong, Teliti!
Jangan bengong! teliti dan sudah shodaqoh belum?
Itulah sekelumit kalimat yang senantiasa terngiang hingga saat ini di telingaku yang keluar dari bibir salah satu dosen Bahasa Inggris yang pernah mengajar di kantorku. Sekarang dia sebagai agent native speaker.
Sekitar seminggu lebih, mahasiswa/i disuguhkan dengan native speaker. Fee nya, selalu aku berikan ke dosen fulltime di kantor yang memang mengurusi itu. Di pertemuan terakhir, saat dosen fulltime itu bilang langsung saja agentnya yang ke aku, aku mengiyakan.
Sore, Mr agent ke tempatku. Aku buatkan kwitansi dengan sejumlah Rp. Aku ambil uang, aku hitung sudah sesuai dengan yang tertera.
Ba'da Maghrib, beliau datang untuk menukarkan uang 50rb. Tanpa berpikir ya aku kasih.
Selang beberapa lama, dia kembali dan berkata "Mba ngasih uang ke saya sebenarnya berapa?"
Deg! aku baru sadar. seperti baru diguncang untuk bangun dari tidur. Aku ngeh kalo uang yang aku berikan merah semua. Padahal seharusnya ada birunya 1 lembar.
Ngga konsen, mencari selisihnya. Mo cash opname juga jd ngga kepikiran. ditungguin malah sama mr agentnya. Aku coba mengingat dan aku sebut sejumlah Rp.
Benar segitu? Dia bertanya lagi
Aku ngangguk (masih sangsi sih)
Ngga taunya, mr agent itu tau aku ngasih uangnya brp. Ngetes aku, aku ingat dan teliti ngga. Lemes aku. Yang aku kasih sisanya banyak.
Ya Allah, terima kasih. Engkau kirim orang jujur padaku. Orang yang mau mengingatkan aku.
Selasa, 16 Oktober 2012
Refresh Tujuan Nikahmu
Membaca kisah ini, tanpa terasa menitiklah air mata.
Ngga sengaja menemukan artikel ini di blognya
http://vikikurdiansyah.wordpress.com
Prolog Sebuah cerita yang mengingatkan kita kembali akan makna dan tujuan menikah. Cocok bagi yang udah nikah maupun yang mau menikah. Semoga mendapat hikmah dari cerita ini
Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk dan diam seribu bahasa. Setelah sekian lama saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.
”Assalamu’alaiki…. permintaan hafalan Qur’annya mau dibacakan kapan, Dek?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya.
Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.
”Nanti saja saat qiyamullail,” jawab istriku masih dalam tunduknya.
Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam.
Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun, ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia pun menyerah. Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu bahwa istriku “tidak menarik”. Sekelebat pikiran itu muncul dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
”Bang, sudah saya katakan sejak ta’aruf (awal perkenalan), bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahanda Imam Malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengatakan pada Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama mereka,”Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengan baik (ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama’ besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.
”Ya Rabbi aku menikahinya karena-Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milik-Mu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas. Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhnya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajahnya yang masih menyisakan segumpal ragu.
”Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.
“Tidak Dek, sungguh sejak awal, niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat ini. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh anggota keluarga memboikot untuk tidak datang saat akad tadi pagi,” paparku sambil meggenggam erat jemarinya.
Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya malam, bait-bait doa kubentangkan pada-Nya.
”Rabbi, tak kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik, karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Rabbi, saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu pertemukanlah aku dengan-Mu dalam jannah-Mu!” Aku beringsut menuju pembaringan amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shaum sunnah rasul-Nya. Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah, maka kuatkan aku. Dan aku ini hina, maka muliakanlah aku. Dan aku fakir, maka kayakanlah aku wahai Dzat Yang Maha Pengasih.
Diceritakan kembali dari cerita yang berjudul “Gejolak Jiwa di Malam Pertama” dari Tabloid Media Ummat yang beralamat di JL. Wilis 11 Malang, edisi 59/ tahun ke-2.
Ngga sengaja menemukan artikel ini di blognya
http://vikikurdiansyah.wordpress.com
Prolog Sebuah cerita yang mengingatkan kita kembali akan makna dan tujuan menikah. Cocok bagi yang udah nikah maupun yang mau menikah. Semoga mendapat hikmah dari cerita ini
Di kamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk dan diam seribu bahasa. Setelah sekian lama saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.
”Assalamu’alaiki…. permintaan hafalan Qur’annya mau dibacakan kapan, Dek?” tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya.
Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.
”Nanti saja saat qiyamullail,” jawab istriku masih dalam tunduknya.
Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam.
Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun, ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu, ia pun menyerah. Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu bahwa istriku “tidak menarik”. Sekelebat pikiran itu muncul dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
”Bang, sudah saya katakan sejak ta’aruf (awal perkenalan), bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahanda Imam Malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengatakan pada Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama mereka,”Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengan baik (ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama’ besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.
”Ya Rabbi aku menikahinya karena-Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milik-Mu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas. Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhnya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajahnya yang masih menyisakan segumpal ragu.
”Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk,” ucapnya lagi.
“Tidak Dek, sungguh sejak awal, niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat ini. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh anggota keluarga memboikot untuk tidak datang saat akad tadi pagi,” paparku sambil meggenggam erat jemarinya.
Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya malam, bait-bait doa kubentangkan pada-Nya.
”Rabbi, tak kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik, karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Rabbi, saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu pertemukanlah aku dengan-Mu dalam jannah-Mu!” Aku beringsut menuju pembaringan amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita shalihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan kitab-Nya. Dan senantiasa melaksanakan shaum sunnah rasul-Nya. Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah, maka kuatkan aku. Dan aku ini hina, maka muliakanlah aku. Dan aku fakir, maka kayakanlah aku wahai Dzat Yang Maha Pengasih.
Diceritakan kembali dari cerita yang berjudul “Gejolak Jiwa di Malam Pertama” dari Tabloid Media Ummat yang beralamat di JL. Wilis 11 Malang, edisi 59/ tahun ke-2.
Label:
Hikmah



